Evaluasi Setahun Luthfi-Yasin, Pengamat Soroti Dedikasi

SEMARANG, smpantura – Memasuki satu tahun kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, pemerintahan daerah menunjukkan orientasi kerja yang kuat, meski tetap perlu memperkuat aspek komunikasi publik. Pengamat politik Universitas Diponegoro, Nur Hidayat Sardini, menilai gaya kepemimpinan Luthfi-Yasin pada tahun pertama mencerminkan filosofi Jawa “rame ing gawe, sepi ing pamrih.”

“Filosofi itu menggambarkan bahwa pemimpin sebaiknya banyak bekerja, ramai dalam pengabdian, tetapi minimal dalam pamrih dan pencitraan. Ini penting agar seorang pemimpin tetap empan papan dan memberi teladan,” ujar Nur Hidayat dalam dalam Forum Group Discussion (FGD) satu tahun kepemimpinan Luthfi-Yasin di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin sore, 23 Februari 2026. Acara yang di kemas Ngabuburit Jurnalis itu diselenggarakan Forum Wartawan Pemprov dan DPRD Jawa Tengah (FWPJT).

BACA JUGA :  Dorong Investasi Pariwisata Jateng, Penerbangan Semarang–Singapura Dibuka

Menurutnya, filosofi tersebut bersifat adiluhung dan relevan dengan konteks kepemimpinan saat ini. Namun demikian, ia menegaskan sepi ing pamrih bukan berarti meniadakan publikasi kinerja sama sekali. Publikasi tetap di perlukan dalam kerangka kepentingan deliberatif dan akuntabilitas demokrasi.

“Pejabat publik adalah pemilik otoritas yang bersumber dari kedaulatan rakyat. Karena itu, publik berhak mengetahui apa yang di kerjakan pemimpinnya. Ini penting agar pembayar pajak tahu bahwa mandat yang mereka berikan di gunakan dengan sebaik-baiknya,” jelasnya.

Ia menilai capaian kinerja Pemprov Jawa Tengah selama satu tahun terakhir yang di sampaikan melalui data dan angka masih berada pada batas kuantitatif. Menurutnya, capaian tersebut perlu di lengkapi dengan pendekatan kualitatif agar sejalan dengan persepsi publik.