Kemudian, pada sila ketiga. Ini di wujudkan riil melalui tradisi gerigan atau sambatan (gotong royong). Serta pagelaran kesenian wayang kulit dan Balo-balo yang meleburkan berbagai latar belakang sosial demi persatuan.
“Sila Keempat di praktikkan melalui rembug desa, di mana segala persoalan diselesaikan melalui dialog partisipatif tanpa kekerasan,”tandasnya.
Terakhir Sila Kelima terlihat dalam tradisi ater-ater, yakni membagikan makanan hasil bumi kepada tetangga sebagai instrumen organik pemerataan sosial.
Fikri juga menyoroti karakteristik masyarakat penutur ngapak yang sangat egaliter jika di bandingkan dengan budaya Jawa lain, seperti Mataraman yang memiliki stratifikasi sosial ketat dan budaya basa-basi.
“Kita ini ngapak, dan ngapak itu egaliter. Tidak ada strata kelas sosial, semuanya menjunjung kebersamaan dan terbuka. Istilahnya cablaka atau blaka suta (berbicara jujur apa adanya),” jelasnya.
Sarasehan ini turut menghadirkan 11 pembicara andal dari berbagai daerah. Beberapa tokoh terkemuka yang hadir menyumbangkan pemikiran kritisnya antara lain Rektor UHN Tegal Sudirman Said. Kemudian, Guru Besar Hukum Tata Negara UPN Veteran Jakarta Taufiqurrahman Syahuri, Rektor IGTKI Ledalero Flores Otto Gusti, hingga sejumlah akademisi dan pejabat publik lainnya. (**)



