Fikri Faqih; Budaya Ngapak dan Moci Wujud Murni Nilai Luhur Bangsa
BREBES, smpantura – Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menegaskan, nilai-nilai luhur Pancasila sejatinya telah hidup secara nyata dan organik di dalam kearifan lokal masyarakat Tegal dan Brebes.
Hal ini di sampaikannya untuk mengembalikan di skursus Pancasila pada realitas sosiologis akar rumput. Yakni, dalam sarasehan peringatan 81 Tahun Pancasila di Kampus 3 Universitas Harkat Negeri (UHN), Padepokan Kalisoga, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Senin (1/6/2026) sore.
Dalam forum intelektual bertema Pancasila di Antara Otoritas dan Legitimasi Kekuasaan ini, Fikri membandingkan isu politik nasional di ibu kota Jakarta. Dimana, sering kali terasa sangat bising dan mengawang-ngawang. Dengan realitas masyarakat di daerah yang tidak sepenuhnya pragmatis.
“Saya tidak mempercayai teori ‘sawer’ (politik pragmatis/uang). Teori tersebut ternyata maksimal hanya memengaruhi sekitar 30 persen saja,” tegas Fikri.
Lebih lanjut legislator F-PKS ini menekankan, agar masyarakat berpenutur bahasa ngapak di wilayah Pantura Barat tidak perlu merasa rendah diri.
Menurutnya, falsafah Pancasila bukanlah sekadar teks yang di hafal saat upacara, melainkan di representasikan secara utuh melalui tradisi harian.
Sila Pancasila
Fikri merinci pengejawantahan kelima sila tersebut dalam budaya lokal. Seperti pada sila pertama, tercermin mendalam melalui tradisi keagamaan masyarakat agraris dan pesisir. Seperti ungga-unggahan, rasulan, serta megengan sebagai wujud syukur menyeimbangkan ritual spiritual dengan pelestarian alam.
“Kemudian, Sila Kedua tergambar dari budaya moci (minum teh bersama) dan peniadaan hierarki kasta (undak-usuk) dalam bahasa ngapak yang murni memanusiakan martabat setiap individu secara setara,”tandas legislator dari daerah pemilihan (Dapil) Jawa Tengah IX (Kota Tegal, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes) ini.



