Gubernur Ahmad Luthfi mengatakan, Gerakan Pangan Murah merupakan langkah konkret pemerintah untuk menjaga keterjangkauan harga dan ketersediaan bahan pokok penting di tengah gejolak ekonomi global dan potensi inflasi pangan.
Menurutnya, sejumlah komoditas memang mengalami fluktuasi harga, salah satunya minyak goreng, meski masih berada di bawah harga eceran tertinggi (HET). Karena itu, pemerintah melakukan intervensi melalui subsidi dan distribusi pangan murah.
“Dengan GPM ini harapannya dapat memenuhi keterjangkauan masyarakat karena ada subsidi dari kita, misal beras, bawang merah, bawang putih, dan sebagainya. Ini untuk menjaga agar kebutuhan bahan pokok masyarakat tetap terpenuhi,” kata Luthfi di dampingi Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana.
Komoditas
Pada kegiatan tersebut, total komoditas yang di jual mencapai Rp 121 juta. Rinciannya meliputi beras 5 ton, minyak goreng 1.000 liter, telur 500 kilogram, gula pasir 200 kilogram, bawang merah 200 kilogram, bawang putih 200 kilogram, serta cabai rawit merah dan cabai merah keriting masing-masing 50 kilogram.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto, menjelaskan, intensitas pelaksanaan GPM akan terus di tingkatkan menyesuaikan kondisi kerawanan pangan dan gejolak harga di daerah.
“Ini untuk meningkatkan keterjangkauan masyarakat agar dapat mengakses pangan lebih murah. Kemarin minyak goreng sempat naik, lalu kami lakukan intervensi bersama Bulog dan instansi terkait untuk menstabilkan harga,” ujarnya.
Bupati Amalia menambahkan, program tersebut sangat dibutuhkan masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang masih dinamis.



