Jateng Antisipasi Kekeringan Demi Menjaga Produksi Beras Nasional

Pada tahun pertama program tersebut telah di bangun sekitar 293 sumur, sedangkan tahun berikutnya di tambah sekitar 253 sumur.

“Untuk pertanian, kami lakukan pembangunan sumur pantek sebanyak 1.000 buah dalam kurun waktu lima tahun,” kata Setyo.

Sementara itu, Bupati Boyolali Agus Irawan menyoroti pentingnya perbaikan jaringan irigasi untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian, khususnya di kawasan Merapi-Merbabu yang menjadi sentra sayuran.

Ia menyebut masih terdapat lahan yang hanya mampu panen satu hingga dua kali dalam setahun akibat keterbatasan pasokan air. Dengan perbaikan irigasi, frekuensi panen di harapkan dapat meningkat menjadi tiga kali dalam setahun.

“Kami mohon perbaikan irigasi, karena masih ada beberapa tempat yang saat ini panen sekali atau dua kali. Harapannya nanti bisa panen tiga kali,” ujarnya.

BACA JUGA :  Wagub Taj Yasin Evakuasi Dua Lansia Lemas dari Pengungsian

Gangguan Lain

Selain persoalan irigasi, Boyolali juga mengeluhkan gangguan kera liar yang merusak tanaman pertanian warga di kawasan lereng Merapi-Merbabu.

Di sisi lain, Wakil Bupati Sukoharjo, Eko Sapto, melaporkan kondisi pangan di daerahnya masih sangat aman. Pada 2025, Sukoharjo mencatat surplus beras sekitar 114 ribu ton, dengan cadangan beras daerah mencapai 57 ribu ton dan cadangan Bulog sekitar 3.500 ton.

Menurut Eko, pemerintah daerah juga telah menyiapkan langkah mitigasi menghadapi potensi El Nino melalui koordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah dan Kementerian Pertanian.

Menanggapi berbagai usulan tersebut, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan, ketahanan pangan tetap menjadi prioritas pembangunan daerah. Ia menekankan pentingnya menjaga kontribusi Jawa Tengah sebagai salah satu penopang utama pangan nasional.