Kelengkeng Batang Pasok Jaringan Ritel Modern

TUNJUKAN KELENGKENG: Bupati Batang M. Faiz Kurniawan (tengah), menunjukkan kelengkeng asal Batang usai meresmikan Gerai Indomaret Fresh Alun-alun Batang, Kabupaten Batang.

BATANG, smpantura – Buah kelengkeng lokal Batang di pastikan bisa masuk ke jaringan ritel modern, Indomaret. Ini berkat langkah strategi yang di lakukan Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mendorong kerjasama antara pemerintah daerah dengan Indomaret.

Gerbang pasar modern ini terbuka lebar setelah Indomaret melirik potensi besar di Kabupaten Batang sejak akhir tahun 2025. Lewat kerjasama antara Pemkab Batang dan Indomaret maka Indomaret berperan sebagai off-taker (penyerap hasil panen). Jaringan ritel ini siap menjadi wadah bagi buah-buahan lokal Batang.

”Starting point-nya kemarin saat Pak Bupati melakukan ceremonial grand opening di Indomaret Fresh Alun-Alun Batang Selasa (19/5). Produk petani Batang akan masuk ke jaringan ritel Indomaret,” ujar koordinator petani kelengkeng milenial Batang yang juga fasilitator pendamping Dinas Pertanian Kabupaten Batang Aditya Reza Kusuma, Kamis (21/5).

Ia menjelaskan, saat ini, total populasi pohon kelengkeng di Batang di perkirakan telah mencapai 10.000 pohon jika di gabungkan dengan milik mandiri dan BUMDes. Menariknya, kelengkeng Batang memiliki keunggulan kompetitif yang jarang di miliki komoditas buah lain, seperti waktu panennya yang bisa di atur. Hal inilah yang menjadi kunci optimisme petani dalam memenuhi kuota ketat dari ritel modern.

BACA JUGA :  Omzet Terjun Bebas hingga Gulung Tikar PKL Pujasera Melati Ingin Kembali Berjualan di Jalan Kartini

”Kelengkeng ini punya keunikan yang tidak di miliki oleh komoditas buah lain yaitu bisa di atur pembuahan dan waktu panenya. Jadi kita nanti bisa membuat setiap minggu itu ada panenan. Misalnya minggu pertama panenan dari Subah, minggu selanjutnya panenan dari wilayah Banyu Putih, minggu selanjutnya lagi wilayah Tersono, terus gitu nanti muter Pak berjenjang,” ujarnya.

Tahapan

Untuk tahap awal, Indomaret wilayah Jakarta meminta pasokan sebanyak 500 kg per minggu. Sementara untuk wilayah Jawa Tengah berkisar antara 100 hingga 500 kg per minggu. Angka ini di targetkan terus merangkak naik hingga mencapai 5 ton per minggu secara bertahap.