Perseteruan Antar Kelompok Remaja, Satu Tewas dan Dua Terluka

SLAWI, smpantura – Perseteruan antara dua kelompok pelajar yang dibarengi aksi kejar dengan menggunakan sepeda motor berakhir dengan tragis. Insiden tersebut terjadi pada Minggu (20/11) dini hari di depan SMP 3 Adiwerna.
Perseteruan tersebut mengakibkan satu korban meninggal dunia dan dua korban lainnya mengalami luka berat dan menjalani perawatan di RSI PKU Muhammadiyah Tegal.

Kapolres Tegal AKBP Arie Prasetya Syafa’at melalui Kasatreskrim Polres Tegal AKP Vonni Farizky mengatakan, saat ini kasus tersebut sedang ditangani. Pihaknya telah mengantongi nama-nama pelaku.
Vonni mengatakan, hasil penyelidikan perseteruan antar pelajar dimulai dari saling ejek dan berlanjut mengadakan pertemuan untuk mengadakan aksi perkelahian.

Vonni menuturkan,penyidik Polres Tegal masih terus mendalami motif perseteruan yang mengakibatkan satu korban meninggal dunia dan dua luka berat ini.

“Kami masih mendalami motif meninggalnya korban, dengan cukupnya alat bukti baru kami sampaikan,”ujar Vonni yang berharap kejadian itu bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat.

Bagian Humas RSI PKU Muhammadiyah Tegal Dinar mengatakan, pada Minggu (20/11) sekitar pukul 03.37 rumah sakit menerima tiga pasien. Satu pasien datang sudah dalam keadaan meninggal dunia dan dua pasien lagi datang dalam keadaan luka berat.

BACA JUGA :  Menangkan Pemilu 2024, Garda Bangsa Fokus Gait Generasi Z

Tiga pasien tersebut yakni M Tema Musadat (15) warga Desa Kedungsukun Rt 2 Rw 1 Kecamatan Adiwerna dan M Jefri warga Desa Bersole Rt 15 Rw 02 Kecamatan Adiwerna. Keduanya mengalami luka di bagian tubuh dan memar-memar termasuk di area kepala. Satu pasien lainnya yakni Ardiansyah (15) warga Desa Sindang Rt 02 Rw 05, Kecamatan Dukuhwaru meninggal dunia dan telah dimakamkan oleh keluarga.

Sementara itu, secara terpisah, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal Winarto mengatakan, hingga Senin (21/11) pihaknya belum mendapat laporan dari sekolah tempat korban menuntut ilmu selama ini.
“Kejadian tersebut terjadi di luar jam sekolah, sehingga saat anak berada diluar, merupakan tangggungjawab keluarga,”sebutnya.

Dari informasi yang diperoleh di lapangan, korban adalah siswa di salah satu SMP negeri di wilayah Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal.

Menurut Winarso, untuk mengantisipasi kejadian seperti itu, pembinaan telah dilakukan oleh Dinas Dikbud maupun sekolah, bahkan melibatkan apparat penegak hukum. Dengan terjadinya insiden itu, ia menegaskan pentingnya peran orangtua mengawasi pergaulan dan aktivitas anak-anaknya. (T04-Red)

Scroll to top
error: