Untuk memperkuat pengelolaan, Mawar Biru juga mengembangkan peternakan ayam dan entok sebagai bagian dari pemanfaatan sampah organik.
Sedangkan sampah anorganik di salurkan ke pengepul dan limbah multilayer di manfaatkan jadi bahan kerajinan.
“Yang kami kejar itu perubahan mindset. Sampah itu bukan musuh, tapi bisa jadi berkah kalau di kelola,” ujar Nur.
Meski belum memproduksi secara massal, hasil olahan sampah dari Mawar Biru mulai di lirik sebagai suvenir dalam berbagai kegiatan pelatihan yang mereka isi.
Ke depan, Mawar Biru ingin berkembang menjadi tempat wisata edukasi sampah.
Harapannya, semakin banyak masyarakat yang paham bahwa sampah tidak selalu identik dengan kotor dan bau, tapi juga punya nilai manfaat dan ekonomi. (**)



