Selain konektivitas, Luthfi juga menyoroti pentingnya pengembangan desa wisata sebagai penguat ekosistem pariwisata.
Saat ini, masing-masing daerah telah menyiapkan target pengembangan desa wisata baru, yakni 50 desa wisata di Kabupaten Magelang, 45 di Purworejo, 35 di Kebumen, 30 di Temanggung, dan Lima di Kota Magelang.
“Kita siapkan sekarang agar tahun 2027 tinggal pelaksanaan. Infrastruktur menuju destinasi wisata juga harus menjadi prioritas,” ujarnya.
Luthfi juga meminta pemerintah kabupaten/kota memperbanyak penyelenggaraan event sebagai daya tarik wisatawan. Menurutnya, kalender event yang ada saat ini masih perlu di tingkatkan, baik dari sisi jumlah maupun skala kegiatan.
“Kalau setahun baru 100 event, itu masih kurang. Tambah lagi. Pariwisata ini sektor yang tidak mengenal resesi,” tegasnya.
Sinergi
Untuk memperkuat sinergi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga akan berkoordinasi dengan pengelola kawasan Candi Borobudur. Guna menyusun pola pengembangan yang tetap menjaga nilai warisan budaya dunia.
“Saya tertarik dengan Borobudur. Segera undang TWC, termasuk bupati dan wali kota Magelang. Ada sesuatu yang harus di bahas bersama tanpa mengurangi heritage. Pemda melakukan apa, masyarakat melakukan apa, pemerintah pusat apa, dan UNESCO apa, sehingga ada keterpaduan,” kata Luthfi.
Sejumlah kepala daerah yang hadir dalam forum tersebut menyampaikan dukungannya terhadap upaya integrasi kawasan wisata tersebut.
Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menilai manfaat ekonomi Borobudur masih perlu di perluas agar lebih dirasakan masyarakat sekitar. Salah satu gagasan yang sedang di dorong adalah pembukaan kawasan Borobudur pada malam hari.



