Menurut Luthfi, Jawa Tengah juga telah menyiapkan modul pembelajaran serta memberikan pembekalan kepada kepala sekolah, pengawas, dan guru untuk mendukung implementasi program tersebut.
“Jawa Tengah menjadi provinsi pertama yang menginisiasi materi dan modul koperasi untuk pembelajaran anak-anak di sekolah. Modulnya sudah ada, para kepala sekolah, pengawas, dan guru juga sudah di beri pembekalan. Tinggal pelaksanaannya,” katanya.
Implementasi
Dalam implementasinya, materi perkoperasian di sesuaikan dengan jenjang pendidikan. Pada tingkat SD/MI, siswa di perkenalkan pada nilai dasar koperasi dan semangat gotong royong. Di jenjang SMP/MTs, pembelajaran mencakup organisasi, pengelolaan, dan manfaat koperasi.
Sementara pada tingkat SMA/SMK/MA, siswa mulai di kenalkan pada praktik koperasi dan kewirausahaan. Adapun penerapan di SLB akan di sesuaikan dengan karakteristik peserta didik.
Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang di nilai telah membuka babak baru dalam pendidikan perkoperasian nasional.
“Saya mengucapkan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, khususnya Bapak Gubernur Jawa Tengah, yang hari ini telah melahirkan sejarah,” ujarnya.
Ferry menilai, pendidikan koperasi penting untuk menghidupkan kembali pemahaman generasi muda mengenai ekonomi Pancasila dan nilai-nilai kebersamaan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
“Jawa Tengah adalah provinsi pertama yang membuat insersi kurikulum tentang perkoperasian. Kami berharap provinsi-provinsi lain bisa melakukan hal yang sama,” katanya.
Menurut Ferry, koperasi tidak boleh di pahami sebatas lembaga simpan pinjam. Tetapi harus kembali di tempatkan sebagai badan usaha yang berlandaskan gotong royong, kebersamaan, dan kekeluargaan.



