“Koperasi bisa menjadi alternatif penyediaan lapangan pekerjaan bagi milenial, Gen Z, generasi muda, hingga generasi Alpha yang saat ini masih berada di bangku sekolah,” ujarnya.
Apresiasi
Apresiasi juga di sampaikan Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin. Ia menilai pendidikan perkoperasian bukan hanya mengajarkan aspek ekonomi, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter peserta didik.
“Pendidikan perkoperasian adalah proses menanamkan nilai kebersamaan, tanggung jawab, kejujuran, kepemimpinan, kemandirian, serta semangat membangun kesejahteraan bersama,” katanya.
Menurut Toni, pendekatan insersi yang di terapkan Jawa Tengah memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih relevan dengan kehidupan nyata tanpa menambah beban kurikulum.
Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan dukungan penuh terhadap program tersebut. Ia menilai pendidikan perkoperasian sejalan dengan nilai-nilai keagamaan, terutama semangat tolong-menolong, kepedulian sosial, dan kemandirian.
“Kementerian Agama bersama seluruh lembaga pendidikannya siap mendukung gagasan cerdas yang di munculkan oleh Gubernur Jawa Tengah,” kata Nasaruddin.
Ia menambahkan, koperasi juga dapat di kembangkan melalui berbagai lembaga keagamaan, seperti masjid, pondok pesantren, organisasi kemasyarakatan keagamaan, hingga rumah ibadah.
Program Insersi Pendidikan Perkoperasian di harapkan menjadi investasi jangka panjang dalam membangun generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik. Tetapi juga memiliki jiwa gotong royong, kemandirian ekonomi, serta kemampuan berwirausaha untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. (**)



