TEGAL, smpantura – Kentongan tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya yang kuat. Nama kentongan berasal dari bunyi “tong-tong” atau “tong-teng” yang di hasilkan saat alat tersebut di pukul.
Dalam bahasa Indonesia, kentongan merujuk pada alat bunyi tradisional yang biasanya terbuat dari kayu atau bambu berlubang dan di gunakan sebagai sarana komunikasi masyarakat. Secara makna, kentongan tidak hanya berarti alat pukul penghasil suara, tetapi juga melambangkan tanda peringatan dan alat komunikasi tradisional. Kemudian, simbol ronda dan keamanan kampung, serta
lambang kebersamaan dan gotong royong masyarakat desa.
Dari penelusuran smpantura.news, ada beberapa fungsi kentongan antara lain:
1. Penanda Bahaya
Kentongan di gunakan untuk memberi peringatan jika terjadi kebakaran, pencurian, bencana alam, atau serangan musuh.
2. Media Komunikasi Warga
Di desa-desa, kentongan menjadi alat untuk memanggil warga menghadiri rapat, kerja bakti, atau kegiatan adat.
3. Penanda Waktu
Sebelum adanya jam modern, bunyi kentongan dipakai sebagai penanda waktu ibadah, ronda malam, atau pergantian waktu jaga.
4. Sarana Keagamaan
Di beberapa masjid tradisional di Jawa, kentongan dan bedug di gunakan untuk mengingatkan waktu salat sebelum pengeras suara dikenal luas.
5. Kesenian Tradisional
Seiring perkembangan zaman, kentongan juga berkembang menjadi alat musik tradisional. Banyak kelompok seni memadukan bunyi kentongan dalam pertunjukan musik rakyat.
Namun di daerah perkotaan di Indonesia, fungsi kentongan itu kini semakin tersingkirkan oleh alat-alat modern. Sementara di wilayah pedesaan masyarakat masih memanfaatkan fungsi kentongan tersebut. (**)



