Jembatan Sakalimalas, Saksi Bisu Era Kolonial Belanda di Bumiayu

BREBES, smpantura – Sejarah mencatat, Indonesia pernah dijajah Belanda selama 350 tahun. Selama masa penjajahan, Belanda meninggalkan banyak bangunan bersejarah yang tersebar di seluruh penjuru negeri.

Salah satunya adalah Jembatan Sakalimalas di Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes. Bagi yang sering melintasi Jalan Lingkar Bumiayu, pastilah akrab dengan jembatan yang satu ini.

Namanya Jembatan Sakalimalas. Ada juga yang menyebutnya Sakalimolas atau Sakalibel. Nama-nama tersebut berasal dari bahasa Jawa yang menggambarkan struktur tiang lima belas yang kokoh menopang jembatan tersebut.

Bagi pecinta fotografi dan penggemar kereta api, Jembatan Sakalimalas adalah daya tarik utama untuk menangkap momen indah. Di berbagai platform media sosial, foto dan video jembatan ini sering kali muncul dengan beragam caption.

Dibangun pada tahun 1917, Jembatan Sakalimalas memiliki panjang 298 meter dan saat ini merupakan yang terpanjang di wilayah Daop V Purwokerto. Pembangunan jembatan ini sendiri dilatarbelakangi kepentingan Belanda saat itu.

Yaitu untuk menghubungkan daerah perkebunan besar yang kebanyakan terletak di daerah pedalaman dengan pelabuhan-pelabuhan. Dengan begitu, hasil perkebunan seperti gula, teh, dan kopi dapat diangkut dengan mudah dan cepat.

BACA JUGA :  Sejarah Berdirinya Pabrik-Pabrik Teh di Tegal

Ada banyak cerita yang menyertai perjalanan Jembatan Sakalimalas sebagai jalur transportasi vital di Pulau Jawa. Salah satu kejadian dramatis adalah runtuhnya salah satu tiang penyangga pada tahun 1972 akibat banjir sungai keruh.

Untungnya, masyarakat Adisana segera mengetahui kejadian ini dan berhasil menghentikan kereta yang hendak melintas. Berkat jasanya tersebut, Pemerintah Republik Indonesia membangun sekolah dasar inpres di desa tersebut, tak jauh dari lokasi jembatan.

Sejak tahun 2011, jembatan ini sudah tidak lagi difungsikan. Pembangunan jalur rel ganda Cirebon-Kroya membuat perannya digantikan oleh jembatan baru yang berkonstruksi beton. Jembatan baru dengan enam tiang penyangga ini, persisi disamping jembatan Sakalimalas.

Meskipun tidak lagi aktif, Jembatan Sakalimalas tetap dibiarkan utuh. Konstruksinya yang menggunakan besi baja dengan rangka rasuk lalu lintas atas membuatnya tetap kokoh, meskipun usianya sudah lebih dari satu abad.

PT KAI akan tetap merawat jembatan Sakalimalas sebagai heritage atau wisata sejarah. Ya. Jembatan Sakalimalas akan tetap menjadi saksi perjalanan waktu, dari masa lalu yang bersejarah hingga transformasi masa kini.(T06_re)

Scroll to top
error: