Manfaat Atribut Bagi Warga Penginyongan

FOTO : Atmo Tan Sidik

Sekarang tempat tersebut di namakan “Petilasan Candi Ronggeng”. Dan untuk memperingati momen terseebut, setiap tanggal 1 Juni, di adakan HUT berdirinya Kebun Teh Kaligua. Hingga sekarang masih ada kepercayaan bahwa, saat memperingati hari jadi PTP. Kaligua pada setiap tanggal 1 Juni, acara selamatan harus nanggap Ronggeng Jatilawang Banyumas. Bukan hanya itu, dalam Buku Sejarah Kabupaten Brebes halaman 32 di sebutkan bahwa peninggalan kuno Gunung Segara di Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, juga berupa kudi dan kentongan. Artefak tersebut menjadi bukti adanya warisan budaya yang masih terjaga hingga kini. Kedua benda itu juga memiliki kemiripan dengan milik komunitas Penginyongan.

Oleh karena itu, menjadi relevan ketika Universitas Negeri Prof. K.H Saifudin Zuhri (UIN SAIZU Purwokerto) menyelenggarakan kegiatan Forum Group Discussion (FGD) Identitas Atribut Penginyongan. Hal itu berangkat dari dasar pemikiran bahwa setiap masyarakat memiliki budayanya masing-masing. Budaya tersebut merepresentasikan dinamika dan nilai luhur yang di anut dan di pegang teguh oleh masyarakat.

BACA JUGA :  Bung Karno Ndesep

Ragam Budaya

Keragaman budaya dalam masyarakat tercermin dari beragamnya karakteristik yang di miliki oleh setiap komunitas masyarakat tersebut. Karena itu identitas budaya menjadi penanda utama dalam mengenali, membedakan dan mengidentifikasi masyarakat tertentu.

Kegiatan FGD yang menurut rencana akan di adakan pada hari Rebo Paing, tanggal 20 Mei pagi tahun 2026, akan di buka oleh rektor UIN SAIZU pada jam 8.30 dengan menghadirkan tiga orang narasumber. Yaitu Kang Ahmad Tohari, Novelis Ronggeng Dukuh Paruk, Sastrawan dan Budayawan Banyumas yang juga merupakan Kamituwa warga Penginyongan yang akan memaparkan materi adat dan tradisi budaya Penginyongan.