Atmo Tan Sidik membawakan materi Ragam Atribut dalam Tradisi Seni dan Budaya Penginyongan. Sedang untuk materi terkait Model dan Filosofi Atribut dan Identitas Budaya Penginyongan akan di bawakan oleh Kang Krusharto yang merupakan pembina paguyuban Goramans Banyumas. Menurut ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Dr. H. Rahman Afandi, M.S.I,, peserta kegiatan tersebut akan melibatkan para budayawan, dinas terkait, akademisi, dan masyarakat pecinta budaya di wilayah Penginyongan.
Referensi Lain
Beberapa rekan yang secara acak saya hubungi, mereka telah serius mencermati referensi beberapa buku. Seperti “Potret Wong Banyumas Tempo Doeloe Hingga Masa Kini” karya Budiono Herusatoto, “Ensiklopedi Kesenian Penginyongan” , “Ensiklopedi Batik Penginyongan”. Yang keduanya di terbitkan oleh Pusat Kajian dan Pengembangan Budaya Penginyongan UIN SAIZU PURWOKERTO, novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya kang Ahmad Tohari, novel “Jatisaba” karya Ramayda Akmal, buku “Santri Brambang: Falsafah, Syiar, dan Pengabdian: Merajut Pengabdian Negara dengan Benang Cinta kepada Nabi” karya AKBP Lilik Ardiyansah, M.S.I., buku “Semangat Orang-Orang Tegal” karya Prof. Dr. Abu Su’ud, buku “Ketanggungan: Dahulu, Sekarang, dan Yang Akan Datang (1945-2026)) karya Dr.Maufur Marghub Abdul Aziz, M.Pd. Di samping buku, mereka juga telah mempelajari beberapa penggunaan atribut dari pakaian. Yang meliputi: baju, celana, alas kaki, ikat kepala, senjata, alat rumah tangga, ataupun benda-benda lain-nya yang identik dengan budaya Pengginyongan.
Masyarakat Penginyongan memang dikenal memiliki karakter yang terbuka, egaliter. Mereka sering ngomong apa anane, blakasuta, thok melong, glogok soar, kemprong bombong. Serta memiliki kosa kata yang unik, semisal dari Banyumas dengan kosa kata unggulan: kencot, teyeng, jigal.Sedang dari Kota Tegal dengan kosakata yaul, yaheer. Sedang dari masyarakat Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes: aja sombong kayong ora weruh sing nggeyong, aja akeh pamere kayong ora weruh empere.



