Manfaat Atribut Bagi Warga Penginyongan

FOTO : Atmo Tan Sidik

Oleh: Atmo Tan Sidik

smpantura – Dari beberapa sumber mulai dari artefak, sosiofak, maupun mentifak dapat kita temukan satu bukti bahwa telah terjalin hubungan yang erat antara brayah penginyongan yang antara lain meliputi Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Kebumen, dan Kabupaten Banyumas.

Sekedar contoh tertulis di dalam buku sejarah Kabupaten Brebes, halaman 44 ada narasi “Bupati Tegal, Brebes, Losari mengasingkan diri ke daerah Banyumas, bertapa di dalam sebuah masjid yang pada hari ke tujuh waktu Pangeran Adipati tertidur, sang pangeran bermimpi bahwa atap dari masjid itu telah terbuka, seolah-olah terbawa naik ke angkasa.

Lalu nampaklah bulan purnama yang gilang gemilang cahayanya, yang sinarnya semarak memancar ke seluruh penjuru pulau jawa, yang kemudian mendekati masuk ke dalam dadanya.

Sumber Lain

Pangeran Adipati merasakan mendapatkan semangat dari pralambang itu. Dalam buku Kaligua: A Brief History halaman 8 di sebutkan bahwa pada tahun 1901 mesin pertama yang datang ke Kaligua adalah ketel uap. Hingga sekarang, ketel uap tersebut masih di gunakan sebagai tangki penampungan bahan bakar berkapasitas 10.000 liter. Proses pengangkutannya di lakukan secara gotong royong oleh banyak orang. Perjalanan dari Kretek, Paguyangan menuju Kebun Kaligua sejauh 15 kilometer itu memakan waktu hingga 20 hari.

BACA JUGA :  Dari Genangan ke Gerakan: Solusi Terintegrasi Penanganan Banjir Perkotaan Pemalang

Dalam usaha pengiriman ketel uap tersebut, di sertakan satu grup Penari Ronggeng untuk menghibur pekerja di sela-sela waktu istirahat. Pada waktu melewati salah satu Blok/Kebun Teh, seorang penari ronggeng bernama Nyai Ken Sari melantunkan sebuah lagu (gending). Konon pada saat Nyai Ken Sari melantunkan lagu (gending) tersebut, suara maupun wajah (Pasuryan) menjadi serba sempurna.