BATANG, smpantura – Tren berkurban melalui aplikasi digital semakin di minati masyarakat urban. Khususnya kalangan muda dan pekerja perkotaan yang menginginkan cara praktis tanpa harus datang langsung memilih hewan kurban. Fenomena ini ikut mendongkrak peran vendor atau penyedia hewan kurban yang bekerja sama dengan berbagai lembaga filantropi nasional.
Taufik Ikhsanudin, salah seorang peternak yang juga vendor hewan kurban asal Kabupaten Batang, mengaku telah menjadi pemasok hewan kurban sejak 2016 untuk sejumlah lembaga berskala nasional seperti Rumah Zakat (RZ), Human Initiative (HI), Baznas, Dompet Dhuafa, dan Kitabisa. Melalui aplikasi digital yang di sediakan lembaga-lembaga tersebut, masyarakat cukup memilih paket kurban dan melakukan pembayaran secara daring.
”Orang-orang kota sekarang maunya praktis. Tinggal klik diaplikasi, pilih paket A, B, atau C sesuai harga, lalu lembaga yang mencarikan hewan kurbannya,” ujarnya.
Menurut Taufik, lembaga filantropi seperti Rumah Zakat dan HI menggandeng vendor untuk pengadaan ternak kurban yang nantinya di salurkan ke berbagai wilayah. Termasuk penyaluran ke daerah terpencil, terluar, dan tertinggal (3T). Penyaluran tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga ke berbagai daerah lain di Indonesia hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua.
”Tahun ini, saya yang mendapat permintaan menyediakan sekitar 100 ekor domba dari Rumah Zakat. Saya juga melayani suplai sapi, meski jumlahnya tidak sebanyak domba,” ujarnya, Rabu (20/5).
Menariknya, Taufiq tidak memiliki peternakan sendiri. Ia menerapkan pola kemitraan dengan masyarakat. Hewan di beli dari pasar lalu di titipkan kepada warga untuk di pelihara dengan sistem bagi hasil. Dalam skema kerja sama dengan lembaga filantropi, vendor biasanya sudah mendapat kontrak sekitar tiga bulan sebelum Idul Adha. Selama masa itu, vendor di minta menyiapkan stok hewan sesuai target kebutuhan.



