Dari Pingitan ke Panggung Dunia: Mengapa Semangat Kartini Masih Belum Selesai

Oleh : Dr. Nur Aflahatun, M.Pd Dosen UPS Tegal

smpantura – Setiap tanggal 21 April, nama Raden Ajeng Kartini kembali bergema. Ia dirayakan sebagai simbol emansipasi perempuan Indonesia. Anak-anak mengenakan kebaya, sekolah mengadakan lomba, dan media sosial dipenuhi kutipan inspiratif. Namun, di balik perayaan itu, ada satu pertanyaan penting yang sering luput: apakah perjuangan Kartini benar-benar sudah selesai?

Kartini hidup dalam bayang-bayang tradisi dan kolonialisme Hindia Belanda, di mana perempuan tidak memiliki kebebasan menentukan hidupnya. Melalui surat-suratnya yang kemudian dihimpun dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, ia menyuarakan kegelisahan yang jauh melampaui zamannya: tentang pendidikan, kebebasan berpikir, dan martabat perempuan.

Hari ini, jika Kartini melihat Indonesia, ia mungkin akan tersenyum tetapi tidak sepenuhnya lega.

Pendidikan: Menang Akses, Belum Tentu Setara

Perempuan Indonesia kini tidak lagi dilarang sekolah. Mereka hadir di ruang-ruang kelas, bahkan mendominasi beberapa program studi di perguruan tinggi. Ini adalah kemenangan besar dari gagasan Kartini.

BACA JUGA :  Walikota yang Walinalar

Namun, akses belum selalu berarti kesetaraan. Di banyak daerah, perempuan masih menghadapi keterbatasan ekonomi, budaya, bahkan norma sosial yang menghambat pendidikan mereka. Ada yang putus sekolah karena pernikahan dini, ada pula yang harus mengalah demi saudara laki-lakinya.

Kartini memperjuangkan hak untuk belajar. Kita hari ini ditantang untuk memastikan bahwa hak itu benar-benar inklusif dan berkeadilan.

Perempuan Bekerja: Merdeka atau Terjebak Beban Ganda?

Perempuan masa kini telah memasuki hampir semua sektor dari akademisi hingga pemimpin perusahaan. Mereka berdiri di panggung yang dulu bahkan tidak bisa dibayangkan oleh generasi Kartini.