Ketika seorang anak terlalu sering disebut nakal, malas, sulit di atur, atau bermasalah, itu bisa kehilangan kepercayaan. Jika dirinya masih memiliki sisi baik yang dapat dikembangkan. Di sinilah sekolah perlu berhati-hati. Label yang tampak sederhana bagi orang dewasa dapat menjadi luka panjang bagi siswa.
Bimbingan dan Konseling seharusnya hadir dengan wajah yang berbeda. BK adalah layanan yang bersifat preventif, developmental, humanistik, dan memberdayakan. Preventif berarti BK tidak hanya bergerak setelah masalah terjadi, tetapi membantu mencegah masalah melalui layanan pengembangan diri, keterampilan sosial, regulasi emosi, dan penguatan karakter.
Developmental berarti BK melihat siswa sebagai pribadi yang sedang tumbuh, bukan sebagai individu yang selesai di nilai berdasarkan satu kesalahan. Humanistik berarti BK memandang siswa sebagai manusia bermartabat yang berhak di dengar, di pahami, dan di bantu. Memberdayakan berarti BK membantu siswa menemukan kekuatan dalam dirinya agar mampu mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas kehidupannya.
Strength Based Counseling
Dalam konteks inilah pendekatan strength-based counseling menjadi penting. Secara sederhana, pendekatan ini berarti layanan konseling yang berfokus pada kekuatan, potensi, harapan, nilai positif, dan peluang berkembang siswa. Pendekatan ini tidak menolak adanya masalah. Namun, masalah tidak satu-satunya identitas siswa. Seorang siswa mungkin pernah melakukan pelanggaran, tetapi ia juga memiliki potensi untuk berubah. Siswa mungkin kurang percaya diri, tetapi bisa jadi ia memiliki kepekaan, ketekunan, atau kepedulian sosial. Seorang siswa yang tampak agresif mungkin sebenarnya memiliki energi kepemimpinan yang belum di arahkan secara tepat.



